5 Cara Fokus pada yang Positif

Kunci untuk hasil pembelajaran yang lebih maksimal dan mendorong siswa menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebagai guru sering kali merasakan masalah yang tidak dapat diatasi, seperti: standar pembelajaran yang tak terjangkau, sempitnya jam pertemuan, banyaknya kumpulan dokumen yang harus dipenuhi, dan banyak lagi tugas-tugas lain dari dalam ataupun luar sekolah.

Ketika guru memilih fokus pada hal-hal negatif ini, guru merasa frustrasi dan kehabisan tenaga. Tanpa disadari siswanya pun ikut fokus pada hal negatif karena tantangan pembelajaran dan perilaku guru. Oleh karenanya siswa yang datang tiap hari ke sekolah memiliki pengalaman buruk.

Fenomena ini memberikan kesadaran bahwa sikap kecemasan, ketakutan dan negatif guru akan tercermin pada siswanya. Untuk itu, dalam pembelajaran guru perlu menggeser fokus negatif ke positif sebagai alternatif yang paling efektif.

Banyak penelitian menyimpulkan dukungan guru menjadi alasan terkuat untuk siswa senang berada di sekolah dan terus belajar. Dengan memusatkan perhatian pada hal yang positif, guru dapat memicu hasil pembelajaran yang lebih maksimal dan mendorong siswanya menjadi pribadi yang lebih baik.

Langkah Fokus pada yang Positif

  1. Menjadi cheerleader dan bukan kritikus; Berusaha untuk fokus pada perilaku positif, dengan mencari apa yang membuat siswa termotivasi dengan menggali apa yang mereka nikmati di luar sekolah.
  2. Menjadi pengamat; Sejatinya selain pandai para siswa memiliki bakat yang luar biasa. Mereka sangatlah istimewa untuk berupaya meraih apa yang diinginkannya. Dengan begitu, membuatnya “terhenyak — berdetak”, akan memotivasi mereka melakukan berbagai hal jauh melebihi ekspektasi yang biasanya.
  3. Menguatkan keistimewaan siswa di pembelajaran; Setelah kekuatan, bakat, dan minat siswa ditemukan, baru dihubungkan dengan pembelajaran. Untuk memfasilitasi hal ini, dapat dirancang model pembelajaran berbasis proyek, tamu tokoh/ahli, presentasi atau langsung terlibat dalam aktifitas-aktifitas dan keorganisasian di sekolah. Lebih dari itu, model pembelajaran outing memungkinkan mengekplorasi sisi yang mereka sukai. Biarkan siswa mencari, mendapatkan, mengamati dan merubahnya menjadi hasil yang dipersyaratkan.
  4. Menjadikan pembelajaran lebih mudah diakses; Kreativitas dan teknologi dapat menjembatani kesenjangan antara bakat dan pembelajaran. Kenalkan siswa yang suka bercerita dengan software voice-to-text, sehingga mereka mencatatkan apa yang ada divisualnya dan guru beserta temannya dapat membaca cerita yang dia buat. Tentu tidak hanya software voice-to-text itu saja, masih banyak yang lainnya seperti: mindmap, editor video, komik, animasi, dan sebagainya.
  5. Membantu menemukan sebuah tujuan; Apapun aktifitas yang siswa lakukan dalam pembelajaran, pastikan mereka tahu tujuannya. Termasuk ketika sekedar siswa ikut membantu membagikan kertas, tunjukkanlah bahwa dia memiliki kemampuan interpersonal yang kuat dan bertanggung jawab untuk membantu orang lain terlebih dahulu.

Karena begitu banyaknya siswa yang dihadapi, pastilah dari tahun ke tahun akan selalu berubah. Namun, memusatkan perhatian pada hal yang positif adalah tidak lekang oleh waktu dan hemat biaya. Program sederhana yang tak butuh kemewahan atau teknologi baru yang mengkilap. Ini adalah dasar pembelajaran yang dipersonalisasi dan menjadi kunci untuk menutup kesenjangan prestasi siswa yang sulit dijangkau.

Dengan berfokus pada kekuatan siswa, guru dapat membangun ketahanan dan minat siswa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pemusatan perhatian pada hal yang positif, setiap siswa menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

 


Ditulis berdasarkan artikel Edutopia, “Keeping the Focus on the Positive” oleh Nina Parrish.

13/03/2018

0 responses on "5 Cara Fokus pada yang Positif"

Leave a Message

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X